Postingan

Menampilkan postingan dengan label Islam Nusantara

Konsep Aswaja Perspektif NU

Setiap firqah (golongan) mengklaim sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah. Baik NU, Muhammadiyah, FPI, Salafi-Wahabi maupun sekte atau Ormas lain sah-sah saja mengaku sebagai Aswaja dalam rangka untuk mencari pengikut.  Nadhlatul Ulama (NU) sebagai Ormas terbesar di Indonesia bahkan Ormas terbesar di dunia memiliki khashaish atau kekhususan dalam memahami Aswaja. Konsep Aswaja perspektif NU (baca: Aswaja An-Nahdliyah) ini untuk membedakan antara Aswaja yang dipahami NU dengan Aswaja yang dipahami oleh Ormas atau sekte diluar NU.  Adapun Aswaja dalam perspektif NU adalah: 1. Dalam bidang akidah, NU menganut konsep tauhid yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.  2. Dalam bidang fikih, NU mengakomodasi salah satu madzhab empat yakni madzhab Maliki, madzhab Hanafi, madzhab Syafi'i dan madzhab Hambali.  3. Dalam bidang tasawuf, NU menganut tasawuf yang mu'tabar (lurus) sebagaimana yang dikonsepkan oleh imam Abu Hamid Al-Ghazali...

Makna Filosofis Aksara Jawa

HA = Hana hurip wening suci (Adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci) NA = Nur candra, gaib candra, warsitaning candara (Harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi) CA = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (Satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal) RA = Rasaingsun handulusih (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani) KA = Karsaningsun memayuhayuning bawana (Hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam) DA = Dumadining dzat kang tanpa winangenan (Menerima hidup apa adanya) TA = Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup) SA = Sifat ingsun handulu sifatullah (Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan) WA = Wujud hana tan kena kinira (Ilmu manusia hanya terbatas namun bisa juga tanpa batas) LA = Lir handaya paseban jati (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi) PA = Papan kang tanpa kiblat (Hakekat Allah yang ada di segala arah) DHA = Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk ...

Ini Makna Filosofis Lodheh Tujuh Warna untuk Mengusir Bencana

Gambar
Usume Pagebluk Jarene Buyut Biyen  (Pandhemi) WAYAHE Wong Jowo nJANGAN (nyayur) LODHEH 7 WARNO yoiku: ' Kluwiih, Cang Gleyor, Terong,  Kulit Mlinjo, Waluh,  Godhong So, lan Tempe. Inumane Cengkir (kelapa muda). "Lodeh 7 warna" mengku werdhi (punya makna): 1. *Kluwih*: kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne. ( _Perhatikan, sayangi, dan didiklah keluarga dg cinta yg tulus_ ) 2. *Cang gleyor*: cancangen awakmu ojo lungo².( _Menahan diri agar tdk sering bepergian utk sesuatu yg kurang penting_ )   3. *Terong*: terusno anggone olehe manembah Gusti, ojo datnyeng, mung yen iling tok. ( _Berdoa dan memohon kepada Tuhan di setiap saat, bukan hanya kadang2_ )              4. *Kulit melinjo*: ojo mung ngerti njobone ning kudu reti njerone babakan pagebluk. ( _Jangan hanya memahami luarnya, pahamilah isi dan hakikatnya_ ) 5. *Waluh*: uwalono ilangono ngeluh gersulo ( _hilangkan sifat suka mengeluh, menyalahkan orang lain da...

Nabi Mendapat Laporan dari Hasil Munas NU

Gambar
Kemarin malam saya menghadiri acara istighatsah kubro di kantor PBNU. Istighatsah malam itu terasa istimewa bukan hanya karena dihadiri ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj, melainkan juga karena dikunjungi para kiai dan habaib dari berbagai daerah. Salah satu kiai yang hadir sekaligus memberikan ceramah adalah kiai muda kharismatik asal Situbondo Jawa Timur, KH Ahmad Azaim Ibrahimy. Ringkas tapi padat, beliau menegaskan pentingnya memegang teguh Khittah NU 1926. Mengutip Alm. Kiai Mujib Ridwan (Surabaya), Kiai Azaim menegaskan bahwa Kembali ke khittah 1926 merupakan salah satu keputusan Munas NU 1983 yang disetujui Baginda Nabi SAW. Alkisah, setelah Munas dan Muktamar NU digelar tahun 1983 dan 1984, maka pada tahun 1987 Kiai As'ad Syamsul Arifin (Situbondo) meminta KH Mujib Ridwan untuk berangkat ke Mekah-Madinah, melaporkan hasil Munas dan Muktamar NU ke Baginda Nabi. Dengan amalan tertentu yang diijazah Kiai As'ad, Kiai Mujib berjumpa dengan Nabi SAW. Dalam perjumpaan i...

Tiga Kiai Jombang Pendiri NU

Gambar
Oleh: Yusuf Suharto Biasanya yang disebut pendiri NU itu adalah tiga kiai, yaitu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri, walau sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut. Kiai Cholil Bangkalan yang merupakan guru dari Kiai Hasyim juga disebut sebagai pendiri NU, begitu juga Kiai Faqih Maskumambang Gresik yang disebut-sebut sebagai Wakil Rais Akbar. Kiai Mas Alwi Abdul Aziz yang menamai Nahdlatul Ulama, Kiai Ridwan Abdullah yang membuat lambang NU, juga Kiai Abdul Chalim yang merupakan Wakil Katib dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pertama kali, adalah di antara para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, mengapa biasanya yang disebut pendiri NU diwakili oleh tiga kiai Jombang yaitu Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri? Karena ketiganya adalah di antara yang berperan awal pembentukan NU. Juga karena ketiga kiai itu adalah pimpinan tertinggi di NU secara be...

NU dan Keterlambatannya

Gambar
Disampaikan dalam Seminar Nasional Menyongsong 1 Abad NU dengan tema “Menumbuhkan Spirit Islam Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyyah sebagai Benteng NKRI” yang diselenggarakan oleh PAC ISNU Kebonsari, Madiun, Ahad, 26 Januari 2020. Oleh: Rijal Mumazziq Z Secara organisatoris, NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926.  Artinya, ormas ini berusia 97 tahun dalam hitungan hijriyah, dan 94 tahun dalam hitungan masehi. Secara matematis, NU sudah tua dengan berbagai dinamikanya. Di Indonesia sendiri ada beberapa ormas Islam yang sudah melampaui usia 1 abad. Mereka berkembang dan melewati berbagai konflik dan dinamika yang ada. Masing-masing juga menyumbangkan kader terbaiknya bagi Islam dan Indonesia. NU, misalnya, punya posisi yang kuat di zaman Orde Lama, namun “dihabisi” di zaman Orde Baru. Puluhan tahun orang-orang NU dihambat, namun ndilalah Allah mentakdirkan Gus Dur sebagai presiden, dan kini KH. Makruf Amin sebagai RI-2. Bisa dibilang, NU kadan...

Tali Jagat NU yang Kendor

Gambar
Oleh Ulil Abshar Abdalla Konon, masing-masing ormas Islam punya ayat favorit yang selalu dijadikan kutipan dalam ceramah-ceramah yang disampaikan oleh ustadz mereka. Muhammadiyah, misalnya, punya beberapa ayat favorit, misalnya ayat-ayat dalam Surah Al-Ma'un. Kalau ada imam salat kok "gemar" banget membaca Surah Al-Ma'un, kemungkinan besar dia adalah anggota Muhammadiyah. Sementara itu, NU juga mempunyai beberapa ayat favorit. Selain ayat Kursi yang terkenal itu, ayat favorit lain bagi NU adalah QS 3:103 dalam Surah Ali Imran: "Wa'tashimu bihablil-Laahi jami'an wa la-tafarraqu" (Berpeganglah kalian semua pada tali Allah, dan jangan bercerai-berai). Konon, ayat inilah yang mendasari lambang NU berupa jagat yang diikat oleh tali. Logo NU, dengan kata lain, adalah tafsiran visual atas ayat 3:103 itu. Yang menarik (dan ini kerap disampaikan dalam ceramah-ceramah oleh para kiai di kampung-kampung dulu), tali yang mengikat jagat itu kendor. Kenapa...

Mengenal "Al-Ghazali Kecil" di Nusantara

Gambar
Disampaikan dalam kajian bakda dzuhur di musala Baitul Irsyad, Intiland Tower Lt. 9, Kamis 15 Juni 2017. Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya) KH. Maimoen Zubair dalam kitab karyanya, al-‘Ulama al-Mujaddidun, berpendapat apabila ulama Nusantara yang kali pertama membawa pulang dan mengajarkan kitab Ittihaf Sadat al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumuddin karya Sayyid Murtadla al-Zabidi adalah KH. Abdul Manan Dipomenggolo, pendiri Pesantren Tremas, Pacitan. Kitab ini merupakan salah satu karya yang memberi penjelasan terbaik mengenai salah satu magnum opus Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali. Sayyid Murtadla al-Zabidi (Abu al-Faydh Muhammad bin Muhammad bin Abdur Razaq al-Husaini al-Zabidi, 1145/1732-1206/1791) adalah seorang muhaddits utama dan leksikografer terkemuka di zamannya. Sayyid Murtadla al-Zabidi lahir di India, belajar di Yaman, mengembangkan karier di Haramain, dan punya reputasi jempolan di Universitas al-Azhar, Mesir. Besar kemun...

Islamisasi Aceh dan Campa

Gambar
Oleh Ahmad Baso Catatan bukti baru tentang peranan Syekh Jumadil Kubro dan putranya, Syekh Ibrahim Asmoro. Naskah Babad Ngampel Denta koleksi Museum Sonobudoyo Yogya menyebut satu bukti baru tentang sejarah Islamisasi Nusantara, terutama di negeri Aceh dan Campa abad 14. Ini terkait peranan ayahanda Kanjeng Sunan Ampel, Syekh ibrahim Asmoro, keturunan Rasulullah SAW. Benar, banyak naskah menyebut yang mengislamkan Raja Campa adalah Syekh Ibrahim Asmoro. Lalu, siapa yg mengislamkan Raja Aceh? Naskah ini menyebut hubungan Raja Aceh [Nateng Ngacih, tidak disebut Pasai] dan raja Campa. Dan yang menghubungkan kedua kerajaan berjarak "pitung ratri" (tujuh malam naik kapal) itu adalah Syekh Ibrahim Asmoro. Ada catatan penting disebut naskah ini: sebelum Syekh Ibrahim ke Campa, dia sudah berada di Aceh dan menikah dengan putri Raja Aceh, Ratna Jumilah atau Juminah. Lalu, Aceh yg mana? Yg jelas disebut di pesisir. Nama Pasai tidak disebut. Padahal itu basis pengislama...

16 Poin Harga Mati NU

Gambar
oleh : KH. Afifuddin Muhajir Khittah 26 yang dipertegas perumusannya pada Munas 83 dan Muktamar 84 di Situbondo adalah harga mati, yaitu: 1. Bahwa NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah adalah harga mati. 2. Bahwa NU mendasarkan paham keagmaannya pada Alquran, sunnah, ijma’, dan qiyas adalah harga mati. 3. Bahwa dalam menafsirkan dan menerjemahkan empat sumber tersebut, NU menempuh pendekatan bermazhab pada ulama ahlussunnah wal jama’ah qaulan wa manhajan adalah harga mati. 4. Bahwa di bidang akidah, NU mengikuti mazhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi qaulan wa manhajan adalah harga mati. 5. Bahwa di bidang Fikih, NU mengikuti al-Madzahib al-Arba’ah qaulan wa manhajan adalah harga mati. 6. Bahwa di bidang tasawuf, NU mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali wa sair al-sadat al-shuffiyah al-muhaqqiqin qaulan wa manhajan adalah harga mati. 7. Bahwa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, NU berpegang pada ...

Berkah Kiai

Gambar
Oleh: Ahmad Ishomuddin Kyai dalam Bahasa Jawa adalah sebutan untuk sesuatu atau sosok yang dihormati dan dimuliakan, sehingga sebilah keris ada yang dinamai Kyai Nogo Sosro dan demikian juga bahkan untuk seekor kerbau di Keraton Yogyakarta yang terkenal dinamai Kyai Slamet. Namun dalam tulisan ini yang saya maksud dengan sebutan "kyai" tiada lain sebutan untuk sosok orang berilmu agama mendalam dan sekaligus dimuliakan, yang dalam bahasa Agama Islam dinamakan ulama, bentuk jamak dari 'Alim (orang berilmu). Kyai yang sesungguhnya dalam perspektif ajaran Islam adalah sosok tokoh yang dihormati dan dimuliakan karena ia membawa warisan dari Rasulullah, ia adalah pewaris ilmu dan perilaku mulia para Nabi terdahulu. Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah pernah bersabda, إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا علما ومن أخذ أخذ بحد وافر "Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, para Nabi itu hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang ...

Sarkub ala Maulana Habib Luthfi bin Yahya

Gambar
Oleh KH. Abdullah Saad Apakah sarkub,  ‘sarjana kuburan’  itu? Nah,  apa yang  ada di pikiran  pembaca?  Sarjana yang  kuliah di  kuburan.  Sarjana yang  diwisuda  di  kuburan. Berhasil  menjadi sarjana setelah mendatangi  sebuah  kuburan. Berhasil menjadi  sarjana karena berkahnya kuburan.  Sarjana  yang  ahli tentang  kuburan. Atau bahkan, sarjana  yang  kuliah di  jurusan kuburan. Istilah sarkub, ‘sarjana  kuburan’  semakin populer di  media sosial. Sebagian  santri-santri muda yang  ‘unjuk  gigi’  di media sosial,  dengan tulisan-tulisan  cerdasnya, memperkenalkan diri  dengan  ‘gelar akademik’  S.Kub, yaitu  sarjana  kuburan. Tentu saja, tidak ada jurusan kuburan di Perguruan Tinggi Islam.  Uniknya,  santri-santri ahli  ziarah ini  sebagian adalah  asli mahasiswa,  ...

Keindonesiaan Kiai: Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, dan Gus Dur

Gambar
Dalam panggung sejarah Indonesia, kita mengenal tiga Ulama kharismtik; KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Ketiga tokoh tersebut satu sama lain mempunyai keterikatan darah dantidak bisa dipungkiri, jasa mereka luar biasa, khususnya dalam merajut kualitas bangsa. Mbah Hasyim sebagai pendiri NU sumbangsih pemikirannya, kinerjanya, dan manfaatnya terus mengakar hingga kini. Sedangkan Kiai Wahid adalah tokoh terpenting dalam pembentukan kesatuan  hidup berbangsa dan bernegara, ini beliau lalui pada saat Indonesia sedang genting-gentingnya menentukan arah hidup ide dan ideologi. Kemudian Gus Dur tidak kalah dengan Kakek dan Bapaknya, Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia, pemikirannya sempat menghentak jagad Indonesia, apalagi pada saat menjadi Presiden Republik Indonesia, beliau sering dianggap kontroversial. Namun, banyak orang mengatakan, Gus Dur melampaui zamannya. Dan Gus Dur selalu mengatakan, “Sejarah akan membuktikannya.” ...

Selamat Natal dan Pluralitas Kebangsaan

Gambar
Oleh: Ahmad Muntaha AM Sudah clear, bahwa hukum seorang muslim mengucapkan selamat natal (dan semisalnya) merupakan permasalahan khilafiyah atau yang diperselisihkan hukumnya di kalangan ulama Ahlussunah wal Jamaah. Di antara ulama yang melarangnya adalah al Khatib As Syirbini (w. 977  H), pakar Fikih Syafi'i kota Kairo ini dalam Mughni Al Muhtaj (IV/255) menyatakan: ومن هنأه بعيده "Dan hendaknya Imam menghukum orang yang memberi ucapan selamat hari raya kepada non muslim dzimmi." Demikian pula Ibn al Qayyim al Jauziyah (w. 751 H) dalam kitabnya Ahkam Ahl ad Dzimmah (I/441). Meski demikian, dalam lingkungan Ahlussunah wal Jamaah rumusan itu tidak menjadi kesimpulan hukum yang tunggal. Banyak ulama lain yang berbeda pandangan. Sebagai misal, as Syahid al Imam as Syaikh Muhammad Sa'id Ramadhan al Buthi (w. 1434 H/2013 M), ulama besar negeri Suriah yang secara tegas menyatakan kebolehan mengucapkan selamat hari raya kepada non muslim. Dalam kitab Musyswa...

Siapakah Pencetus Pertama Banser Jaga Gereja?

Gambar
Pencetus Pertama Banser Menjaga Gereja. Niat Banser Menjaga Gereja. Tahukah kita, siapa orang yang pertama kali secara resmi memerintahkan Banser menjaga gereja? Beliau adalah KH Abdurahman Wahid, Presiden RI ketika itu. Saat masih menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Gus Dur bahkan terjun langsung dalam upaya mengamankan malam Natal di berbagai gereja. Ia memerintahkan Barisan Serbaguna Gerakan Pemuda Ansor atau Banser, organisasi kepemudaan di lingkungan NU, untuk menjaga gereja di malam Natal. Hal itu terjadi pada 1996. Latar belakangnya adalah peristiwa kerusuhan massa yang berakhir dengan pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur. Walau tidak dinyatakan secara implisit, perintah Gus Dur kepada Banser untuk mengamankan gereja di Situbondo dapat dibaca sebagai pertanggungjawaban Gus Dur atas perusakan gereja di Situbondo, di tapal kuda Jawa Timur yang notabene adalah “daerah NU”. Sebelum Natal 1996 itu, Gus Dur sempat ditanyai oleh seora...