Islamisasi Aceh dan Campa


Oleh Ahmad Baso

Catatan bukti baru tentang peranan Syekh Jumadil Kubro dan putranya, Syekh Ibrahim Asmoro.

Naskah Babad Ngampel Denta koleksi Museum Sonobudoyo Yogya menyebut satu bukti baru tentang sejarah Islamisasi Nusantara, terutama di negeri Aceh dan Campa abad 14. Ini terkait peranan ayahanda Kanjeng Sunan Ampel, Syekh ibrahim Asmoro, keturunan Rasulullah SAW.

Benar, banyak naskah menyebut yang mengislamkan Raja
Campa adalah Syekh Ibrahim Asmoro. Lalu, siapa yg mengislamkan Raja Aceh?

Naskah ini menyebut hubungan Raja Aceh [Nateng Ngacih, tidak disebut Pasai] dan raja Campa. Dan yang menghubungkan kedua kerajaan berjarak "pitung ratri" (tujuh malam naik kapal) itu adalah Syekh Ibrahim Asmoro.

Ada catatan penting disebut naskah ini: sebelum Syekh Ibrahim ke Campa, dia sudah berada di Aceh dan menikah dengan putri Raja Aceh, Ratna Jumilah atau Juminah.

Lalu, Aceh yg mana? Yg jelas disebut di pesisir. Nama Pasai tidak disebut. Padahal itu basis pengislaman dari abad 10-13. Masa itu Pasai habis dianeksasi oleh Majapahit di era Hayam Wuruk-Patih Gajah Mada. Rajanya dibunuh; keluarganya lalu melarikan diri. Apakah Raja Aceh yg dimaksud punya hubungan keluarga dengan yg di Pasai yg lari itu? itu pembahasan tersendiri.

Yang jelas naskah Babad Ampel ini menyebut pada hal. 99, baris 7 dari bawah: [Ngacih] Islame saking sun [Negeri Aceh diislamkan oleh saya], kata Syekh Ibrahim kepada istri keduanya, Dewi Sujinah, putri Campa.

Ucapan Syekh Ibrahim ini punya kelebihan sendiri bagi kita: Kita bisa tahu dimanakah jaringan Islamisasi Syekh Jumadil Kubro (Syekh al Husain Jamaluddin), ayahanda Syekh Ibrahim, di abad 13-14 itu gerangan berada.

Sumber para habaib menyebut Syekh Jumadil Kubro dan putranya itu pernah berada di Pasai atau Aceh kini. Tapi tidak ada bukti naskah yg dijadikan rujukan.
Nah naskah Babad Ampel ini memberi dukungan pada hipotesis kaum habaib bahwa Syekh Ibrahim sebelum ke Campa tinggal dulu di Aceh, menikah, dan melakukan dakwah Islamisasi.

Namun demikian, naskah ini tidak menyebut Syekh Jumadil Kubro. Untuk tahu banyak soal itu, ya kita harus masuk ke naskah-naskah Cirebon. terutama naskah Babad Cirebon kode BR 75a/PNRI dan naskah Wangsakerta di Museum Sri Baduga Bandung... barakah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shalawat Badawiyah Kubro (An-Nurooniyah) dan Fadhilahnya

Sanad Keilmuan KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU), Abu Hasan Al-Asy'ari hingga Rasulullah

Shalawat Tasmiyah