Sarkub ala Maulana Habib Luthfi bin Yahya
Oleh KH. Abdullah Saad
Apakah sarkub, ‘sarjana kuburan’ itu? Nah, apa yang ada di pikiran pembaca? Sarjana yang kuliah di kuburan. Sarjana yang diwisuda di kuburan. Berhasil menjadi sarjana setelah mendatangi sebuah kuburan. Berhasil menjadi sarjana karena berkahnya kuburan. Sarjana yang ahli tentang kuburan. Atau bahkan, sarjana yang kuliah di jurusan kuburan. Istilah sarkub, ‘sarjana kuburan’ semakin populer di media sosial. Sebagian santri-santri muda yang ‘unjuk gigi’ di media sosial, dengan tulisan-tulisan cerdasnya, memperkenalkan diri dengan ‘gelar akademik’ S.Kub, yaitu sarjana kuburan. Tentu saja, tidak ada jurusan kuburan di Perguruan Tinggi Islam. Uniknya, santri-santri ahli ziarah ini sebagian adalah asli mahasiswa, bahkan memiliki gelar sarjana sungguhan. Saya tertarik untuk menuliskannya di sini, sebab bahasa sarkub langsung datang dari guru-guru kami. Jalan sarkub adalah bagian utama dari gerakan dakwah guru-guru mulia.
Baik tersurat dan tersirat, di dalam majelis-majelis ilmu maupun amaliyah keseharian mereka. Dan tentu saja, menjadi bagian inti dari gerakan dakwah saya di pondok pesantren al-Inshof. Maka, tidak mengherankan jika sebagian dari sarkub ini adalah kiai-kiai muda yang sangat bangga dengan aktivitas ziarahnya. Mereka, para penggila ziarah ini, menemukan perkuliahan yang lebih hebat dibandingkan dengan bangku kuliah di kampus. Yaitu, kuliah yang tidak mengenal kata lulus. Kelulusan dari sarjana kuburan adalah dengan terus menjalani kuliah. Saat berhenti kuliah, gelar ‘sarkub’ dengan segala hormat, sesuai etika dan kepatutan, harus dilepaskan. Bahkan di lingkungan santri NU, sarkub lebih berharga daripada gelar sarjana apapun. Sebab, tanpa melazimi tradisi ziarah, seseorang tidak layak mengaku sebagai santri NU. Bukan NU, jika bukan pecinta sejati para wali. Dengan menjadi sarkub, seseorang memiliki kepantasan untuk diakui sebagai santri NU ataupun jamaah NU. Mungkin ada pertanyaan, mengapa tidak memilih gelar sarjana pengajian ataupun sarjana pesantren? Apakah dengan ziarah seseorang mendapatkan tambahan materi ilmu? Siapa yang mengajar? Jika ingin melawan monopoli gelar keilmuan di perguruan tinggi, bukankah pilihan sarjana pesantren lebih tepat? Saya ingin menjawab makna sarkub dengan kisah kedua guru saya dari Kudus. Beliau berdua adalah kakak beradik. Namun, dengan pertimbangan mendalam dan ketakdziman saya sebagai murid, mohon maaf, saya tidak bisa memperkenalkan nama keduanya. Saya mengantar beliau berdua untuk
sowan kepada al-Arifbillah al-Alimul Allamah al-Mursyid Kammil Mukammil Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Semoga Allah memanjangkan umur beliau fi sihhatin wa’afiyah. Di dalam mobil, kami bertiga telah rembugan1 tentang keperluan yang akan kami haturkan kepada Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, yang kami yakini bening dan awas mata batinnya. Kami, para muridin dan muhibbin, setiap saat merepotkan beliau dengan keluh kesah kesulitan hidup. Sungguh berat bukan, tugas seorang guru? Sang kakak berniat sowan dengan tujuan silaturahmi, ngalap berkah dan memohon doa kelancaran segala urusan, terutama yang terkait dengan kemajuan pondok dan santri. Sang adik, berniat sama, namun beliau memiliki sebuah urusan dunia yang sangat penting. Guru saya ini memiliki dagangan berton-ton bekatul yang belum terjual. Modal yang beliau miliki telah habis. Jika tidak segera laku, berton-ton bekatul ini akan rusak. Beliau telah berusaha maksimal, namun tanpa hasil. Tidak ada pilihan, kecuali mengembalikan permasalahan ini kepada Allah Swt, melalui hamba-hambaNya yang bertakwa. Kami sowan kepada Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, di rumah putra beliau, al-Habib Husein bin Luthfi bin Yahya. Seingat saya, waktu itu, rumah beliau sedang direnovasi. Saya membuka pintu rumah dan kami melihat Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya sedang duduk dikelilingi para tamu. Inilah, aktivitas keseharian beliau yang dengan sabar merelakan waktunya
untuk melayani kebutuhan umat. Tidak mengenal jam kerja. Tidak mengenal hari libur. Inilah adab yang indah antar para ulama. Para kiai berebut kerendahan hati dengan saling meminta keberkahan doa di antara mereka. Inilah hikmah dari Allah Swt menjadikan doa orang lain lebih makbul dari doa diri kita sendiri. Kedua guru saya memahami pentingnya saling meminta doa ini, terlebih dari seorang ulama yang merupakan ahlu bait, bagian dari cucu Rasulullah Saw. Inilah salah satu hikmah dari perkataan Abu Bakar alShiddiq r.a berkata, “Demi jiwaku yang ada di genggaman-Nya, aku lebih menyukai bersilaturahmi dengan kerabat Rasulullah Saw dibandingkan dengan kerabatku sendiri”. (HR. Bukhori) Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya melihat ke arah saya dengan ceria, senyum beliau mengembang membasahi batin ini. Ada kesejukan yang mengalir dari pancaran wajah beliau yang teduh penuh kasih sayang. Hati saya yang kering karena kerinduan tiba-tiba basah, tenang, dan damai. Namun, setelah kedua guru saya masuk dan duduk, Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menjadi tampak serius raut muka beliau. Senyum dan tawa beliau yang mengembang di depan para tamu tiba-tiba
berubah. Seolah ada respon khusus dengan kehadiran beliau berdua secara langsung dari ahlul-khusus2 Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Tiba-tiba, Maulana alMursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya berbicara di depan seluruh para tamu tentang berbagai perkara yang sesuai dengan rembugan kami di dalam mobil. Tanpa terlebih dahulu bertanya dan menunggu giliran tamu pulang, Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mulai menjawab apa yang kami simpan di dalam hati. Beliau berkata “(Akeh wong alim, jan alim tenan, tapi kenopo kok kurang mencorong ilmune) Banyak orang alim, dan memang benar-benar alim, tetapi kenapa kurang bersinar ilmunya?” Dengan penuh adab, Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi terlebih dahulu meminta maaf kepada tamu-tamu beliau yang sebagian besar adalah para kiai. Menurut beliau, terdapat 3 (tiga) penyebab ilmu yang kurang bersinar. Pertama, kurangnya sholawat kepada Rasulullah Saw. Kedua, kurangnya silaturahmi kepada ahlu bait Rasulullah Saw. Ketiga, kurangnya berkunjung kepada para aulia, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Dawuh lainnya dari beliau adalah tentang sebab-sebab mendapatkan rejeki lancar dan barokah. Uniknya, Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menasehatkan amalan serupa dengan solusi bagi ilmu yang kurang bersinar. Pertama, dengan memperbanyak sholawat. Kedua, ijazah jalbur rizki selain sholawat adalah ziarah makam para wali di daerah kita masing-masing, paling tidak seminggu sekali, bergantian dari satu wali ke wali lainnya. Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya memberikan contoh, “Malam Jum’at ini di makam Mbah Arwani, malam jum’at berikutnya di makam Mbah Shodiq". Dari contoh beliau ini, ziarah yang dimaksud bukan terbatas hanya kepada wali-wali yang masyhur, seperti Sunan Kudus, namun siapapun waliyullah di daerah kita masing-masing. Setelah menyaksikan langsung ketajaman mata batin Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, beliau berdua dapat mencurahkan kebutuhan-kebutuhannya secara langsung kepada Maulana al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Beliau berdua meminta doa keberkahan dan kelancaran dalam berdakwah. Terkhusus sang adik, meminta doa kelancaran urusan dagangan puluhan ton bekatul yang belum terjual. Singkat cerita. keajaiban yang diharap-harap itu diturunkan Allah Swt. Dalam hitungan minggu, berton-ton bekatul itu terjual.

Komentar
Posting Komentar