Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pesantren

Interaksi Sosmed di API Tegalrejo Magelang

Setiap insan di bekali ruh, hati, nafsu dsb, ada kendali yang bernama iman dan takwa tapi ada juga nafsu. Menjinakkan nafsu tentu bukan pekerjaan ringan. Ia lebih sulit dibandingkan mengendalikan kuda liar. Bahkan menaklukan musuh di medan perang jauh lebih ringan ketimbang menaklukan nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri. Suasana pondok menjadi hal yang paling tepat saat ini melindungi diri dari hingar bingarnya era penjajahan smartphone. Mengapa di pondok? Peraturan di API Tegalrejo Magelang sangatlah ketat, apalagi berhubungan dengan Teknologi atau pun internet. Dari sejak dahulu saat masih KH Chudhlori memang sudah tidak di perkenankan untuk berhubungan dengan dunia luar terutama televisi saat itu. Hingga kini Ndalem Mbah Nyai pun tidak mempunyai televisi. Karena memang sudah larangan kyai Chudhlori. Untuk pondok sendiri ada televisi saat hari tertentu atau saat liburan. Nah apalagi laptop/smartphone jelas tidak di perbolehkan. Ini salah satu alasan dalam tarbiyah pendidika...

Pesantren sebagai Cagar Islam Nusantara

Gambar
Pesantren merupakan tradisi ilmu yang mengakar dalam sejarah Indonesia modern. Pesantren, menurut Zamakhsyari Dhofier, merupakan sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal kedatangan Islam di Indonesia yg dibawa walisongo .Untuk menelusuri munculnya pesantren, erat kaitannya dengan penelusuran awal masuknya Islam di wilayah Nusantara. Proses interaksi niaga menyebabkan terbangunnya pemukiman di pantai dan melahirkan lembaga-lembaga pesantren sehingga menumbuhkan sejumlah ibukota kesultanan. Dapat dipastikan bahwa para ulama pun datang menyertai para niagawan Muslim atau bahkan para niagawan itu sekaligus ulama. Interaksi maritim yang terjadi pada masa itu bukan sekedar perniagaan tetapi juga interaksi ilmu dan dakwah. Lembaga pendidikan mulai dirintis sejak awal terbentuknya masyarakat Islam sekitar abad ke-12 atau 13. Setelah agama Islam bertapak di Aceh, terjadi proses islamisasi di masyarakat. Anak-anak usia sekolah mulai diajarkan dasar-dasar ajaran Islam oleh seorang Teun...

Sejarah Pesantren Sarang

Sebelum pesantren Sarang ini menjadi besar, terlebih dahulu pesantren ini telah ditirakati oleh pendahulunya. Yaitu, Mbah Muhdor dan Mbah Syamsyiyah. Mbah Muhdlor berasal dari Bonang (daerah dekat Lasem) dan bertempat tinggal di Sidoarjo. Sedangkan Mbah Syamsyiyah adalah anak Kiai Misbah dari Sedan yang masih mempunyai hubungan darah dengan Kiai Sayyid Sulaiman Mojo Agung Jawa Timur. Leluhur Mbah Syamsyiyah itu status sosialnya lebih tinggi dari status sosial leluhur Mbah Muhdlor. Dalam diri Mbah Syamsyiyah ini telah mengalir darah ke-kiai-an dari Mbah Sulaiman yang merupakan seorang ulama yang alim dan sakti madraguna. Sehingga menjadi sebuah unen-enen (ucapan) kalau ada kiai sakti itu kebanyakan adalah keturunan Mbah Sulaiman Mojo Agung. Sedangkan Mbah Muhdlor keturunan nelayan biasa. Melihat kondisi nasab yang begitu jauh itu, dan saking cintanya kepada Mbah Syamsyiyah, Mbah Muhdlor bernazar jika dirinya dapat mempersunting Mbah Syamsyiyah yang merupakan cucu Kiai Sulaiman Mo...

Berkahnya Pesantren Sukorejo karena Dido'akan Kanjeng Nabi

Suatu saat ketika saya mau mengundang kyai mas badri panji, untuk ceramah di acara PHBI desa Mojosari, beliau bercerita kepada saya, bahwa ayahandanya ( kyai mudhar) pernah disuruh Kyai As'ad untuk melakukan haji. Maka dengan usaha yang maksimal, akhirnya kyai mudhar berangkat juga ke tanah suci. Sesampai ke mekkah, kyai mudhar hanya bisa berdoa di kamar hotel, tidak bisa bertawaf, sebab ia sakit. Ketika semua jamaah haji melakukan thawaf, tiba tiba pintu kamar hotel terbuka dan terlihat Kyai As'ad tampak marah marah kepada kyai mudhar " matak atawaf bekna cong, sela depak ka mekkah bekna", bentak kyai as'ad. Dengan menyeringai, kyai mudhar menjawab " abdhina tak bisa ajhelen kyea, lompo, kadhi ponapa atawafa abdhina". Dengan wajah sumringah, kemudian kyai as'ad menggandeng kyai mudhar sembari berkata " iye mara bhereng engkok", hingga  kemudian sampai di pelataran ka'bah. Ketika itu kyai mudhar membatin " kok bisa kyai as'ad...