Dalil Nabi Memasuki Gereja atau Sinagog
Sesungguhnya ummat Nabi Saw adalah seorang yang bukan dengan mudahnya menuduh seorang muslim dengan tuduhan yang tidak layak. Perihal seorang muslim berdakwah kepada non muslim ternyata telah lama Rasulullah saw ajarkan, sebagaimana Rasulullah berdakwah kepada suku-suku Arab Badui yang kala itu beragama Majusi, sebagian ada yang Yahudi, Nasrani, dll. Yang karenanya masuk Islamlah mereka karenanya dan Islam berkembang pesat.
Habib Munzir menjelaskan tentang perihal bolehnya seorang muslim masuk ke tempat ibadah agama lain meskipun secara pribadi Beliau enggan melakukannya (tak mau masuk gereja & peribadatan agama lain), Beliau menjelaskan:
Boleh saja masuk ke gereja, bahkan shalat di gereja, asalkan Anda berhati-hati jangan sampai terbawa ajaran mereka. Hal itu dijelaskan bahwa para sahabat memperbolehkannya:
Dikatakan oleh Jabir Ra. dari asy-Syu’bi Ra. bahwa diperbolehkannya shalat di gereja. (Mushannif Ibn Abi Syaibah 4864).
Dikatakan pula oleh Ibn Abbas Ra. bahwa ia memperbolehkan shalat di gereja, namun menjadi makruh bila terdapat padanya gambar-gambar berhala (gambar Bunda Maria, Yesus dan semua yang disembah selain Allah). (Mushannif Ibn Abi Syaibah hadits no. 4867).
Dikatakan oleh Rafi’ bahwa: “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz mengimami shalat di gereja di Syam.” (Mushannif Ibn Abi Syaibah hadits no. 4869).
Maka pendapat mereka adalah antara boleh atau makruh, dan bukan haram. Dijelaskan bagaimana banyaknya sahabat Ra. yang melakukan shalat di gereja, demikian pula tabi’in (Nail al-Authar juz 2 halaman 143).
Bagi mereka yang tidak memperbolehkannya adalah karena risau khalayak akan menganggap sama antara masjid dan gereja, sama-sama tempat peribadatan, hingga menyamakan Islam dengan agama lain.
Ust. Sya’roni Assyamfuri ikut pula menjelaskan
Sahabat Ibnu Mas’ud Ra. berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus NabiNya Saw. untuk memasukkan seseorang ke dalam surga. Lalu beliau masuk ke gereja dan di dalamnya mendapati umat Yahudi dan seorang lelaki Yahudi sedang membacakan Taurat kepada mereka hingga sampai pada sifat-sifat Nabi Saw. mereka tidak membacanya. Ada pula seorang lelaki yang sakit di pojok gereja.
Lantas Nabi Saw. bertanya: “Kenapa kalian berhenti dan tidak membacanya?”
Lelaki yang sakit itu menjawab: “Karena mereka sampai pada bacaan sifat-sifat seorang Nabi.”
Kemudian lelaki itu merangkak hingga dapat mengambil Taurat dan membacakannya hingga sampai pada sifat-sifat Nabi Saw. serta ummatnya. Ia pun berkata: “Ini adalah sifat-sifatmu dan sifat ummatmu. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan engkau adalah Rasul Allah.”
Seketika lelaki yang sakit itu meninggal, lantas Nabi Saw. bersabda kepada para kerabatnya (Yahudi): “Bantulah saudara kalian.” (HR. Ahmad).
Sahabat Auf bin Malik Ra. berkisah: “Suatu hari Nabi Saw. pergi dan aku bersama beliau hingga kami memasuki gereja Yahudi di Madinah di hari raya mereka. Namun mreka tidak menyukai kami memasukinya, lalu Rasulullah Saw. bersabda kepada mereka: “Wahai sekalian orang-orang Yahudi, beritahukanlah padaku 12 orang Yahudi yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, niscaya Allah akan menggugurkan kemurkaan yang ditimpakan dari setiap Yahudi yang ada di bawah kolong langit!”
Mereka pun terdiam dan tidak ada seorang pun yang menjawab. Beliau Saw. mengulangi lagi pertanyaannya tapi tidak ada yang menjawab. Sampai yang ke tiga kalinya tetap tidak ada yang menjawab. Lalu Nabi Asaw. bersabda: “Kalian enggan, demi Allah sesungguhnya aku adalah pengumpul, aku yang terakhir, aku nabi pilihan, kalian beriman ataupun mendustakan.”
Setelah itu Nabi Saw. pergi dan aku bersama beliau hingga hampir saja kami keluar lalu ada seseorang di belakang kami memanggil seraya berkata: “Engkau benar wahai Muhammad.”
Lalu Nabi Saw. menoleh dan bersabda: “Siapapun orang itu, kalian mengenalnya wahai sekalian orang-orang Yahudi.”
Mereka pun berkata: “Demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun diantara kami yang lebih mengetahui Kitab Allah melebihimu, tidak ada yang lebih faham darimu, yang melebihi ayahmu dan juga kakekmu sebelum ayahmu.”
Orang yang ditunjuk itu pun berkata: “Aku bersaksi untuknya (Nabi Saw.) atas nama Allah bahwa ia adalah nabi yang diutus Allah yang kalian temukan dalam Taurat.”
Namun mereka malah menyergah: “Kau berdusta!”
Mereka membantah pernyataan orang itu dan mereka mengatakan keburukan tentangnya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Kalian berdusta dan perkataan kalian tidak akan diterima. Baru saja kalian memujinya dengan baik, tapi saat ia beriman kalian beralih mendustakan dan mengatakan seperti itu padanya. Perkataan kalian tidak akan diterima.”
Kami lalu keluar dan kami berjumlah 3 orang; Rasulullah Saw., aku dan Abdullah bin Salam.
Inilah kronologi diturunkannya firman Allah Swt.: “Terangkanlah kepadaku bagaimanakah pendapatmu jika al-Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) al-Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. al-Ahqaf ayat 10). (HR. Ahmad).
Komentar
Posting Komentar