NU Anak Kandung Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah
Syaikhuna Khalil al-Bangkalani memang banyak disebut dalam literatur sejarah Nahdlatul Ulama. Beliau merupakan guru dari Mbah Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu.
Desakan untuk mendirikan jam'iyah (organisasi) Islam kepada Mbah Hasyim, tidak langsung ditanggapi dengan deklarasi. Beliau memilih melakukan tirakat (serapan dari kata Torekat/Thoriqoh) di bawah bimbingan lahir batin Syaikhuna Khalil al-Bangkalani.
Tidak banyak pihak yang berani mengungkap ke tengah publik, bahwa sebenarnya Syaikhuna Kholil al-Bangkalani merupakan seorang Mursyid/Khalifah Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN).
"Gegedug" ulama nusantara tersebut menerima tampuk kemursyidan dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas bin Abdul Ghaffar, Pendiri Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah.
Tampuk kekhalifahan dzikir Laa Ilaaha Illallah dengan suara keras itu juga diberikan oleh Syaikh Ahmad Khatib kepada tiga muridnya yang lain.
Yakni, Syaikh Thalhah Kalisapu, Cirebon, Syaikh Abdul Karim al-Bantani dan Syaikh Sulaiman/Salam al-Bali. Di Jawa Barat, TQN berkembang pesat melalui jalur Syaikh Thalhah. Sementara, di Banten, melalui jalur Syaikh Abdul Karim.
*Petunjuk Langit untuk Mbah Hasyim*
Berbagai macam isyarat atau petunjuk, diberikan oleh Syaikhuna Khalil Bangkalan kepada Mbah Hasyim sebagai "guide" pendirian organisasi Nahdlatul Ulama.
Diantaranya, tongkat yang dibawa oleh sang mediator antara keduanya, yakni Kiai As'ad Samsul Arifin Situbondo. Tongkat itu dibawa serta oleh beliau bersama beberapa kutipan ayat yakni Qur'an surat Thaha ayat 17 - 23.
وما تلك بيمينك يا موسى (١۷) قال هي عصاي اتوكؤا عليها واهش بها على غنمي ولي فيها مأرب اخرى (١٨) قال فالقها يا موسى (١٩) فالقاها فاذا هي حية تسعى (٢۰) قال خذها ولا تخف سنعيدها سيرتها الاولى (٢١) واضمم يدك الى جناحك تخرج بيضاء من غير سوء أية اخرى (٢٢) لنريك من اياتنا الكبرى (٢٣)
Terjemah ayat-ayat ini bertebaran dalam beberapa seri terjemahan berbagai percetakan. Saya akan mencoba mengurai ayat ini dalam konteks hakikat isyaroh.
Konteks guru kepada murid-- apalagi antara seorang mursyid kepada ikhwan-- tiadalah pernah memberikan pelajaran secara "telanjang", semua dibungkus melalui kaidah ilmu. Padahal maksud guru adalah memberikan petunjuk terhadap perjalanan ruhani/tirakat yang sedang ditempuh oleh sang murid.
Allah bertanya kepada Musa "Apa gerangan yang dipegang oleh tangan kananmu, Hai Musa?". Musa kemudian menjawab "Ini tongkatku, aku berpegang pada tongkat ini saat berjalan, aku pun menyibakan dedaunan yang menghalangi jalan ternakku, bagiku pun ada manfaat lain dari tongkat ini"
Pada konteks antara Syaikhuna Khalil al-Bangkalani dengan Mbah Hasyim, maknanya kurang lebih menjadi :
Mbah Kholil bertanya kepada Mbah Hasyim "Apa gerangan yang kau amalkan sehari-hari dalam rangka istikhoroh membuat jam'iyah organisasi Islam di nusantara, Hai Hasyim?".
Mbah Hasyim menjawab "Aku mengamalkan dzikir Laa Ilaaha Illallah, aku berpegang padanya saat berjalan, aku menyibakan hijab (penghalang) seluruh keinginan yang menghalangi jalan pikiranku untuk kembali ke dalam hati, bagiku pun Laa Ilaaha Ilallah memiliki manfaat lain".
Kemudian, Allah memberikan perintah "Lemparkan tongkat itu Musa!". Maka Musa melemparkannya, berubahlah tongkat itu menjadi ular yang meliuk-liuk. Allah berkata "Ambilah, ular itu, jangan takut. Aku akan kembalikan pada rupanya seperti semula"
Jika kita membandingkan konteksnya pada suasana kebatinan Syaikh Khalil dengan Mbah Hasyim, maka kurang lebih maknanya menjadi sebagai berikut.
Syaikh Khalil memberikan perintah "Amalkan terus dzikirmu, Hasyim". Mbah Hasyim terus menerus mengamalkan dzikir Laa Ilaaha Illallah. Menurut kebanyakan informasi yang beredar, sampai 40 hari 40 malam.
Kita ketahui bersama, saat ular melata bahkan sampai meliuk-liuk, itu merupakan simbol sang ular sedang mencari jalan keluar dari kesempitan yang sedang menderanya. Kondisi kebatinan inilah yang saat itu dialami oleh Mbah Hasyim.
Mbah Hasyim mendambakan situasi hati yang lapang, tanpa diisi kotoran maksud duniawi saat kelak mendirikan jam'iyyah (organisasi) islam di nusantara. Rasa takut pun tidak boleh ada sehingga harus diperangi oleh Mbah Hasyim sampai kondisi hatinya berada dalam fitrah (suci/bening).
Allah berkata kepada Musa "Kepitkan tanganmu di ketiakmu, maka tangan itu akan keluar bercahaya tanpa noda, itu adalah tanda yang lain, agar Kami memperlihatkan kepadamu tanda lain yang agung".
Konteks antara Syaikhuna Kholil dengan Mbah Hasyim kurang lebih bermakna,
Syaikhuna Kholil berkata kepada Mbah Hasyim, "Kumpulkan segenap pikiranmu ke dalam hatimu. Maka, kau akan mendapatkan pencerahan murni tanpa cela. Itu merupakan tanda bahwa kelak jam'iyah yang akan kau dirikan itu akan menjadi besar dan diagungkan umat".
*Petunjuk Operasional Pendirian Nahdlatul Ulama*
Seluruh perintah Syaikhuna Khalil al-Bangkalani tersebut dilaksanakan oleh murid kinasihnya, yakni Mbah Hasyim Asy'ari. Isyarat yang diterima oleh beliau pun persis sama seperti yang diceritakan oleh gurunya melalui Kiai As'ad Samsul Arifin.
Akan tetapi, peristiwa batin yang dialami oleh Mbah Hasyim tidak serta merta membuatnya berinisiatif sendiri untuk bergerak. Apalagi, sampai mendeklarasikan sendiri jam'iyyah Nahdlatul Ulama.
Beliau masih menunggu petunjuk lain, sebagai landasan operasional pendirian jam'iyah tersebut. Hingga sampailah Kiai As'ad Samsul Arifin untuk kedua kalinya menemui Mbah Hasyim Asy'ari, seraya memberikan sebuah tasbih dan dua asma dalam asmaul husna. Yakni, asma Yaa Jabbaar dan asma Yaa Qohhaar.
Belakangan, kedua asmaul husna ini menjadi wirid rutin para warga nahdliyyiin dalam berbagai kesempatan. Itu sah-sah saja dan tidak ada sama sekali celaan dalam pengamalannya. Artinya, boleh diamalkan selama ada ijazah secara muttasil tanpa terputus satu pun sanadnya.
Akan tetapi, hemat saya, lebih baik kita mengambil makna hakikat dari proses yang saat itu terjadi antara Syaikhuna Kholil al-Bangkalani dan Mbah Hasyim Asy'ari.
Yaa Jabbaar dan Yaa Qohhaar memiliki makna Hai Yang Maha Gagah dan Hai Yang Maha Perkasa. Keduanya adalah sifat Allah swt. Hemat saya, kedua asmaul husna ini bermakna perintah dari Syaikhuna Khalil al-Bangkalani kepada Mbah Hasyim Asy'ari.
Seolah Syaikhuna Kholil berkata "Hai Hasyim, dirikan dan jalankan jam'iyah Nahdlatul Ulama dengan gagah perkasa tanpa takut atas apapun". Atau boleh jadi bermakna "Hai Hasyim, dirikan dan jalankan jam'iyah Nadlatul Ulama dengan sifat ilahiyah. Tantangan ke depan sangat berat, tapi kau tak perlu takut atas apapun".
*Ujian Cinta Warga Nahdlatul Ulama Terhadap Thoriqoh*
Saya menulis tulisan ini dalam keadaan senyum merekah di bibir. Selama ini, warga nahdhiyin memiliki kekhasan dalam beramaliyah. Berbagai amalan sudah menjadi tradisi dan mendarah daging dalam kehidupan sosial keagamaan mereka.
Padahal, ternyata Nahdlatul Ulama sendiri merupakan buah dari amaliyah dzikir thoriqoh yang ditalqinkan (diijazahkan) oleh Syaikh Kholil al-Bangkalani kepada Mbah Hasyim Asy'ari, Sang Pendiri Nahdlatul Ulama.
Maka melihat konteks ini, sudah sepantasnya mahabbah atau cinta kepada amaliyah, seharusnya tersalur kepada dzikir thoriqoh. Akan tetapi, fakta hari ini berbicara lain. Dzikir Thoriqoh yang diijazahkan oleh Guru Mursyid seolah dianggap "asing" bahkan di kalangan warga nahdliyin sendiri.
Dzikir thoriqoh dianggap hanya diperuntukan bagi orang yang hatinya sudah bersih. Padahal justru, dzikir thoriqoh memiliki fungsi untuk membersihkan hati.
Hemat saya, pangapunten untuk semua pembaca. Penyakit hati, bisa mendera siapapun, baik orang berilmu maupun orang tidak berilmu, baik orang khusus, maupun orang awam. Artinya, semua orang fardhu 'ain hukumnya untuk membersihkan hati, tak peduli berilmu atau tidak, tak peduli orang khusus atau orang awam.
Pola asuhan tokoh nahdliyin untuk umat lebih berkutat atas nama "bil barkah" (demi ngalap berkah), tawasul bil barkah, dzikir hasanah (tanpa talqin), shalawat, hijib, ratib dan do'a hasanah yang lain. Seluruhnya merupakan buah dzikir thoriqoh para guru terdahulu.
Saya pribadi, sama sekali tidak memandang bahwa fenomena tersebut tergolong jelek. Sekali lagi, saya tidak memandang pola asuhan tersebut jelek, sama sekali tidak. Akan tetapi, bukankah menanam dan memelihara pohon itu jauh lebih baik daripada membeli buah di kios buah?.
Al Qur'an Surat Ibrahim ayat 24 - 25 memberikan pengingat kepada kita sekalian,
الم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة اصلها ثابت وفرعها فى السماء (٢٤) تؤتى اكلها كل حين باذن ربها ويضرب الله الامثال للناس لعلهم يتذكرون (٢۵)
"Apakah kalian tidak berfikir, Allah sudah membuat satu permisalan, yakni sebuah kalimat yang baik lagi mewangi (Laa Ilaaha Illallah) adalah seperti pohon yang baik lagi mewangi. Akarnya tertancab dalam hati (ditalqin/diijazah) dan dahannya menghiasi langit (pikiran)" (24).
"Buah dari pohon itu hadir setiap saat atas izin Tuhan. Allah membuat permisalan untuk manusia agar mereka mau berdzikir" (25).
=========
Aba Farhan,
*Kabid SDM TQN Cermin Hati, Cimaung Purwakarta*.

Komentar
Posting Komentar