Keabsahan Adzan Saat Bayi Lahir
Oleh M.Ulil Albab Djaluddin (Alumni Al Falah Ploso)
Apakah benar adzan di luar waktu salat adalah bidah ? Lalu bagaimana dengan adzan yang dilakukan saat istri melahirkan anak ?
Pada dasarnya Adzan memang diperuntukkan memberi tahu masuknya waktu salat. Namun dalam beberapa keadaan diperbolehkan adzan. Seperti dalam hadis berikut :
... فَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيْلَانُ فَنَادُوْا بِالْأَذَانِ ... (أخرجه النسائى فى الكبرى رقم 10791 وأبو يعلى رقم 2219 ، قال الهيثمى (3/213) : رجاله رجال الصحيح)
“Jika ada yang kerasukan jin/syetan maka kumandangkanlah adzan”. Al-Hafidz al-Suyuthi menyampaikan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Nasai dalam Sunan al-Kubra (No 10791) dan Abu Ya’la (no 2219). Ditegaskan oleh al-Hafidz al-Haitsami (3/213): “Para perawinya adalah perawi hadis sahih” (Jami’ al-Ahadits 14/279)
Juga terdapat atsar dari Amirul Mu’minin :
قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : إِذَا تَغَوَّلَتْ لِأَحَدِكُمْ الْغِيْلَانُ فَلْيُؤَذِّنْ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَضُرُّهُ (دلائل النبوة للبيهقي - ج 8 / ص 166)
Umar bin Khattab berkata: “Jika diantara kalian ada yang kerasukan jin/syetan, maka adzan-kanlah. Sebab adzan tidak membahayakan terhadapnya” (Riwayat al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwah 8/166)
Selain karena kerasukan jin, keadaan lain dijelaskan dalam hadis berikut :
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ : رَآنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِيْنًا فَقَالَ : يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ أَرَاكَ حَزِيْنًا ؟ قُلْتُ هُوَ كَذَلِكَ قَالَ : فَمُرْ بَعْضَ أَهْلِكَ يُؤَذِّنْ فِي أُذُنِكَ فَإِنَّهُ دَوَاءٌ لِلْهَمِّ (رواه الديلمي)
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Nabi melihatku sedih. Beliau bersabda: “Suruh sebagian keluargamu adzan di telingamu. Sebab itu obat bagi rasa sedih” (HR al-Dailami)
Syaikh al-Jazari berkata :
وَلَمْ أَرَ فِي رِجَالِهِ مَنْ تُكُلِّمَ فِيْهِ بِقَدَحٍ (كنز العمال - ج 2 / ص 764)
“Saya tidak melihat di dalam perawinya yang dikomentari cacat [lemah]” (Syaikh al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal 2/764)
Dari hadis-hadis ini ulama Syafiiyah, diantaranya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, berkata :
قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ وَالْمَهْمُومِ وَالْمَصْرُوعِ وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ (تحفة المحتاج في شرح المنهاج - ج 5 / ص 51)
“Terkadang dianjurkan adzan untuk selain salat, seperti di telinga bayi yang lahir, orang susah, orang pingsan, orang marah, yang buruk perilakunya baik manusia atau hewan, ketika desakan pasukan, ketika tenggelam. Ada yang mengatakan ketika mayit diturunkan ke kubur, diqiyaskan dengan pertama kali lahir di dunia, namun saya membantahnya dalam kitab Syarah Ubab. Juga ketika kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih. Demikian halnya adzan dan iqamah di belakang musafir” (Tuhfah al-Muhtaj, 5/51)
Beberapa hadis yang dijadikan dalil dalam masalah ini adalah:
Dari Sahabat Abu Rafi’
عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ (رواه احمد وابو داود والترمذي وقال حسن صحيح)
“Saya melihat Rasulullah meng-adzani Hasan bin Ali saat Fatimah melahirkan, dengan adzan salat” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Tirmidzi, ia menilainya hasan sahih).

Komentar
Posting Komentar