Kain Kafan Yesus
Oleh Kang H Idea
Kain Kafan Turin adalah kain yang diklaim sebagai pembungkus tubuh Yesus setelah dia diturunkan dari salib dan dikiburkan. Kain ini mulai muncul dalam sejarah di abad XIV, kemudian terus dipercaya seperti klaim tadi. Kain berukuran sekitar 4,4 x 1,1 meter ini dipenuhi bercak darah yang diklaim merupakan darah Yesus. Dibagian kepala terlihat bekas lelehan darah, yang lagi-lagi diklaim sebagai lelehan darah dari kepala Yesus, akibat pemasangan mahkota berduri di kepalanya.
Kain ini jadi lebih menghebohkan ketika pada abad XVII kain ini dipotret. Potret itu memunculkan wajah manusia berkumis dan berjenggot, yang diduga merupakan wajah Yesus.
Kain ini dianggap sebuah bukti bahwa Yesus memang pernah hidup, disalib, dan benar-benar dibangkitkan. Banyak penelitian ilmiah melibatkan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, untuk meneliti dan merekonstruksi proses penyaliban. Dari hasil penelitian itu disimpulkan bahwa jejak-jejak yang ada pada kain itu cocok dengan gambaran Al-Kitab soal penyaliban Yesus.
Benarkah? Hasil tes carbon dating menunjukkan bahwa kain berasal dari abad XIII. Sejak awal memang sudah ada seorang pendeta yang mengatakan bahwa kain ini dibuat oleh seorang seniman. Rekonstruksi oleh seorang ahli sejarah menjelaskan bagaimana kain ini, sekaligus bagaimana gambar wajah tadi dibuat. Seniman itu memang cerdas. Boleh dibilang, inilah hasil teknik fotografi paling tua di dunia.
Meski carbon dating menunjukkan bahwa kain ini berasal dari abad XIII, tetap saja banyak yang meyakini bahwa kain ini adalah kain kafan Yesus.
Agama memang tidak cukup hanya bermodal keyakinan. Orang tetap memerlukan bukti bahwa yang ia yakini itu benar. Cuma konyolnya, mereka tidak melakukan proses verifikasi secara utuh. Mereka tidak menguji kebenaran agama. Mereka sekadar mencari bukti untuk meyakinkan diri soal kebenaran ajaran agamanya. Ini yang disebut dengan confirmation bias, suatu bentuk kesalahan berpikir. Perhatikan bahwa orang berilmu, paham sains pun tidak luput dari kesalahan berpikir seperti ini.

Komentar
Posting Komentar