Larangan Bersandar kepada Amal


Setan menggoda ahli maksiat dengan cara mengajak mereka untuk melacur, mabok, berjudi, durhaka kepada orang tua, berkhianat dan sebagainya.

Ketika ahli maksiat itu bertobat dan menjadi ahli ibadah, setan menggodanya untuk bangga diri ('ujub), pamer (riya'), ingin populer (sum'ah) dan sombong (kibir).

Ketika ahli ibadah sadar atas kesalahannya dan beristighfar meluruskan niyat dan kembali tholabul 'ilmi, maka setan datang menggodanya dengan membawa fadhilah.

Setan berbisik, "Kamu orang miskin jadi kamu butuh banyak duit. Tahu nggak bahwa istighfarmu itu akan mendatangkan duit lho? Itu sesuai janjiNya dalam Surah Nuh ayat 12 (lalu Syetan membacakan ayat itu)."

( وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا )

Maka ahli ibadah itu mulai tergoda, dalam hati ia berkata, "Ah bener juga aku butuh duit banyak. Ya sudah aku berniat membaca istighfar untuk mendapatkan duit banyak."

Esoknya ahli ibadah itu diuji menerima banyak uang, dan ia berpikir, "Datangnya duit ini pasti karena istighfarku tadi malam."

Tetot. Ia telah terjebak dalam "Mengandalkan Amal."

Tapi bila setelah beberapa hari uang nggak datang juga, maka ahli ibadah itu berpikir, "Aah, percuma aku memperbanyak istighfar toh nggak dapat duit juga."

Tetot. Ia telah terjebak dalam "Merendahkan Amal."

Lalu bagaimana seharusnya? Seharusnya niat beramal adalah semata untuk melaksanakan perintah, mencari ridho, melaksanakan Sunnah dan memohon ampun atas segala dosa.

Adapun Fadhilah cukup diketahui saja, jangan dijadikan niat amal.

-- Ringkasan Tausiyah Kyai Chozin Suko Ketapang

Komentar