Wahabi Haramkan Tahlilan, Palsukan Pendapat Imam Syafi'i


Janganlah Mencatut Fatwa Ulama, KALAU hanya untuk penyelewengan.

Tahlilan bukanlah sebuah kewajiban, yg jika ditinggalkan berdosa dan bukanlah perkara yg diwajibkan-Nya(Alloh) atau ditetapkan-Nya, juga bukanlah perkara syariat (syarat sebagai hamba Alloh).

"Maka jika berkeyakinan bahwa tahlilan adalah sebuah kewajiban yg jika ditinggalkan berdosa maka keyakinan seperti itu tidaklah dibenarkan (termasuk bid’ah yg dholalah) karena yg mengetahui/ menetapkan sesuatu perkara atau perbuatan yg jika ditinggalkan berdosa (kewajiban) atau dikerjakan / dilanggar berdosa (larangan/pengharaman) hanyalah Alloh ta’ala.

Alloh SWT berfirman yg artinya : “Katakanlah! Siapakah yg berani mengharamkn perhiasan Alloh yg telah diberikan kpd hamba2-Nya & beberapa rezeki yg baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal2 yg tidak baik yg timbul daripadanya & apa yg tersembunyi dan dosa & durhaka yg tidak benar dan kamu menyekutukan Alloh dengan sesuatu yg Alloh tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Alloh dengan sesuatu yg kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

Tahlilan adalah amal kebaikan, perkara diluar apa yg diwajibkan-Nya dan tidak bertentangan dngan Al Qur’an & Hadits. "Tahlilan adalah sedekah atas nama ahli kubur yg diselenggarakan oleh keluarga ahli kubur peserta tahlilan bersedekah diniatkan untuk ahli kubur dengan bacaan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, pembacaan surah Yasiin, Al Fatihah, dzikir & doa.

Rosululloh Saw telah mnyampaikan bhawa kita boleh bersedekah atas nama orang yg telah meninggal dunia :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

“Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepada ku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah r.ha bahwa ada sorang laki2 yg berkata kpd Nabi Saw : Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak & aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershodaqoh. Apakah aku boleh bershodaqoh atas namanya? Beliau menjawab : Ya bershodaqohlah atasnya. (HR Muslim 2554)

Adapun bila shodaqoh itu dilakukan oleh orang lain (yg bukan keluarganyapun) juga boleh dan pernah dicontohkan dijaman Nabi Saw :
Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya Nabi bersabda : “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad).

Rosululloh Saw telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ

“Telah menceritakan kpd kami Abdulloh bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kpd kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakn kpd kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi Saw bertanya kpd beliau, Wahai Rosululloh, orang2 kaya dapat memperoleh pahala yg lebih banyak. Mereka sholat seperti kami sholat, puasa seperti kami puasa & bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda : Bukankah Alloh telah menjadikan berbagai macam cara kpd kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674).

Imam Syafi’i ra , ulama yg telah diakui oleh jumhur ulama sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Ulama yg sangat baik dalam memahami Al-Qur’an & As-Sunnah dan Beliau masih bertemu langsung dengan para perowi hadits atau Salafush Sholih, sebagaimana yg disampaikan oleh Imam Nawawi :

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً

“Imam asy-Syafi’i rahimahulloh berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, & apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus” (Riyadlush Sholihin :1/295, lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin : 6/426, lil-Imam Ibnu ‘Allan.

قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur & dibacakan do’a untuk mayyit”
( Ma’rifatus Sunani wal Atsar :7743, lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

"Begitu pula Imam Ahmad semula mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kpd nya namun kemudian Imam Ahmad ruju’(akhirnya sependapat).

قال الحافظ بعد تحريجه بسنده إلى البيهقى قال حدثنا أبو عبدالله الحافظ قال حدثنا ابو العباس بن يعقوب قال حدثنا العباس بن محمد قال سألت يحي بن معين عن القرأءة عند القبر فقال حدثنى مبشر بن أسماعيل الحلبي عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه قال لبنيه إذا أنا مت فضعونى فى قبرى وقولوا بسم الله وعلى سنه رسول الله وسنوا على التراب سنا ثم إقرأوا عند رأسى أول سوره البقرة وخاتمتها فإنى رأيت إبن عمر يستحب ذلك ,قال الحافظ بعد تخريجه هذا موقوف حسن أخريجه أبو بكر الخلال وأخريجه من رواية أبى موسى الحداد وكان صدوقا قال صلينا مع أحمد على جنازة فلما فرغ من ذفنه حبس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا قال له محمد بن قدامة يا أبا عبد الله ما تقول فى مبشر بن إسماعيل قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم قال إنه حدثنى عن عبد الرحمن بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرؤا عند قبره فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك قال فقال أحمد للرجل فليقرأ.

“Al-Hafidh(Ibnu Hajar) berkata setlah mentakhrijnya dengan sanadnya kpd al-Baihaqi, ia berkata ; telah menceritakan kpd kami Abu Abdillah al-Hafidz, ia berkata telah menceritakan kpd kami Abul ‘Abbas bin Ya’qub, ia berkata, telah menceritakn kpd kami al-‘Abbas bin Muhammad, ia berkata, aku bertanya kpd Yahya bin Mu’in tentang pembacaan al-Qur’an disamping qubur, maka ia berkata ; telah mnceritakn kpd ku Mubasysyir bin Isma’il al-Halabi dari ‘Abdur Rohman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berkata kpd putranya, apabila aku telah wafat, letakkanlah aku didalam kuburku, & katakanlah oleh kalian “Bismillah wa ‘alaa Sunnati Rosulillah”, kemudian gusurkan tanah diatasku dengan perlahan, selanjutnya bacalah oleh kalian disisi kepalaku awal surah al-Baqoroh & mengkhatamkanya, karena sesungguhnya aku mlihat Ibnu ‘Umar menganjurkan hal itu. Kemudian al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya, hadits ini mauquf yg hasan, Abu Bakar al-Khollal telah mentakhrijnya & ia juga mentakhrijnya dari Abu Musa al-Haddad sedangkan ia orang yg sangat jujur. Ia berkata : kami sholat jenazah bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamanya duduklah seorang laki2 buta yg membaca al-Qur’an disamping qubur, maka Ahmad berkata kpd nya ; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping qubur adalah bid’ah”. Maka tatkala kami telah kluar, berkata Ibnu Qudamah kpd Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqoh, Ibnu Qudamah berkata : engkau menulis sesuatu darinya ?”,Ahmad berkata: Iya. Ibnu Qudamah berkata : sesungguhnya ia telah menceritakan kpd ku dari Abdur Rohman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan apabila dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqoroh & mengkhatamkannya disamping kuburnya, & ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki2 itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.

Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar r. an hm memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqoroh disisi quburnya & diantara yg meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrohman

Tahlilan hukum asalnya adalah boleh, menjadi makruh jika keluarga ahli kubur merasa terbebani atau meratapi kematian, menjadi haram jika dibiayai dari harta yg terlarang (haram), atau dari harta mayyit yg memiliki tanggungan/hutang atau dari harta yg bisa menimbulkan bahaya atasnya.

"Tahlilan disyiarkan oleh para Wali Songo, Wali Alloh generasi ke sembilan & kebetulan berjumlah sembilan orang.

Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili & tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi/mabuk2 kan atau ke-riang-an lainnya.

Wali Songo masuk dan mengajarkan nilai2 Islam secara luwes & tidak secara frontal menentang tradisi Hindu yg telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam.

Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit.

Jadi istilah tahlil seperti pengertian sekarang tidak dikenal sebelum Wali Songo.

Tahlil muncul sebagai terobosan cerdik & solutif dalam merubah kebiasaan negatif masyarakat, solusi seperti ini pula yang disebut sebagai kematangan sosial & kedewasaan intelektual sang da’i yaitu Walisongo.

Kematangan sosial & kedewasaan intelektual yg benar2 mampu menangkap teladan Nabi Muhammad Saw dalam melakukan perubahan sosial bangsa Arab jahiliyah.

Dinamika pewahyuan Al-Quran pun sudah cukup memberikan pembelajaran bahwa melakukan transformasi sosial sama sekali bukan pekerjaan mudah, bukan pula proses yg bisa dilakukan scara instant.

@** Jadi acara kumpul di rumah ahli waris yg diisi dengan amal kebaikan berupa pembacaan untaian doa, dzikir, pembacaan surat Yasiin dan tahlil itulah tahlilan atau yasinan**@.

Adapaun mereka yg melarang tahlilan dengan cara mengutip (mengambil sebagian teks, tidak secara utuh/komplit)

perkataan ulama seperti Imam Sayyid Al Bakr Ad Dimyathi Asy Syafi’i r.hm, beliau berkata dalam kitab I’anatuth Tholibin :

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

“Ya, apa yg dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkaroh, yg akan diberi pahala bagi orang yg mencegahnya, dengannya Alloh akan kukuhlah kaidah2 agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin. (I’anatuth Thalibin juz 2/165).

Adapun perkataan secara utuhnya, kurang lebih artinya (buka kitab I’anatuth Tholibin, Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i).

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

“Dan sungguh telah aku perhatikan mengenai pertanyaan yg ditanyakan (diangkat) kpd para Mufti Mekkah tentang apa yg dilakukan oleh keluarga mayyit perihal makanan & (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjlasan mengenai kedua nya ; pertanyaan & jawaban tersebut) yaitu mengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya di negeri “al-Harom”, (semoga (Alloh) mengabadikan manfaat mereka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yg khusus di suatu negri bahwa jika ada yg meninggal , kemudian para pentakziyah hadir dari yg mereka kenal & tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan & karena rasa sangat malu telah meliputi keluarga mayyit maka mereka membebani diri dengan beban yg sempurna (التكلف التام), & (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yg banyak (untuk pentakziyah) & menghadirkanya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yg dengan kelembutannya terhadap rakyat & rasa kasihanya kpd ahli mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kpd As-Sunnah yg lurus, yg berasal dari manusia yg Baik (خير البرية) & (kembali) kpd jalan Beliau (semoga sholawat & salam atas Bliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yg disebutkan (pelarangan itu) ?

أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

“Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yg telah di tanyakan,

(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده,

Ya ... Alloh aku memohon kpd-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”. “Iya.., apa yg dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat keluarga mayyit & menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkaroh, yg diberi pahala bagi yg mencegahnya & menyuruhnya. Alloh akan mengukuhkan dengannya kaidah2 agama & mendorong Islam serta umat Islam”
(Ket. Kitab I’anatuth Tholibin juz 2, hal 165)

 👉👉 JADI APA YANG MEREKA KUTIPKAN sebenarnya adalah jawaban atas pertanyaan terhadap sikap pentakziyah yg menunggu disajikan makanan sehingga keluarga ahli kubur menyediakan makanan dengan terpaksa atau mrasa terbebani (bukan masalah tahlilan atau makanannya).

Sedangkan keluarga ahli kubur yg mengadakan tahlilan/mengundang tahlilan, biasanya pada malam harinya atau malam selanjutnya, pada umumnya mereka telah mempersiapkan & tidak merasa terbebani karena mereka meniatkannya sebagai amal sedekah/amal kebaikan atas nama ahli kubur.

Ada sbgian lagi yang melarang tahlilan dengan mengutip perkataan Imam Mazhab seperti, pendapat Imam Asy Syafi’I yg berkata dalam Al Umm (I/318) 👉 ”Aku benci AL MA'TAM yaitu ber-kumpul2 di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yg demikian itu akan memperbaharui kesedihan.”

Yang mana makna sebenarnya MA'TAM adalah perkumpulan ratapan & tangisan, (bukan prkumpulan tahlilan).

Jadi MA'TAM dan TAHLILAN sangat jauh BERBEDA.

"Dahulu orang2 Jahiliyah jika ada yg mati di keluarga mereka, maka mereka membayar para “penangis” untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya yg bertugas & dibayar.

“Jadi perkumpulan ratapan & tangisan seprti itulah yg tidak disukai oleh Imam Syafii, & tentunya Imam Syafii mengetahui bahwa hal itu buruk & dimasa beliau masih ada sisa sisanya yaitu tidak meratap & menjerit2, tapi disebut perkumpulan duka, namun beliau tak menjatuhkan hukum harom, akan tetapi makruh, karena MA'TAM yg ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dengan MA'TAM yg dimasa Jahiliyah, karena jika MA'TAM yg dimasa jahiliyah sudah jelas2 haram,& beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa-sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.

@** Hal yg harus kita ingat bahwa kalimat “benci/membenci” pada lafadh para muhadditsin yg dimaksud adalah “Kariha (كَرِهَ)/yakrahu (يَكْرَهُ)/Karhan (كَرْهًا)” yg berarti Makruh (مَكْرُوْهٌ).

“Makruh mempunyai dua makna, yaitu makna secara bahasa (لُغَةً) & makna syari'ah atau istilah (إِصْطِلَاحَا).

"Makna makruh secara bahasa adalah benci,

"Makna makruh dalam syariah adalah hal2 yg jika dikerjakan tidak mendapat dosa, & jika ditinggalkan mendapat pahala.

 👉👉 Dalam istilah para ahli hadits jika bicara tentang suatu hukum, maka tak ada istilah kalimat benci, senang, nggak suka, hal itu tak ada dalam fatwa hukum, namun yg ada adalah keputusan hukum, yaitu harom, makruh, mubah, sunnah, wajib.

Jika ada fatwa para Imam dalam hukum, tidak ada istilah benci/suka, tapi hukumlah yg disampaikan, maka jelas sudah makna ucapan imam syafi’i itu adalah hukumnya, yaitu makruh, bukan harom. Dan jika mereka menetapkan hukum pastilah diikuti dengan dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits.

“Wallohu A’lam Bish Showab”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shalawat Badawiyah Kubro (An-Nurooniyah) dan Fadhilahnya

Sanad Keilmuan KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU), Abu Hasan Al-Asy'ari hingga Rasulullah

Terjemah Kitab Alala dalam Bahasa Jawa dan Indonesia