Menjadi Mukmin yang Memancarkan Cahaya Allah


Oleh : Kuswanto Abu Irsyad

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nur 35)

Allah memberi cahaya kepada segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi. Pada dasarnya seluruh alam semesta ini berada dalam kegelapan, kemudian Allah memberikan cahaya-Nya pada tempat tempat tertentu. Perhatikan langit dan angkasa raya yang dipenuhi bintang bintang. Semua itu berada dalam keadaan gelap, kemudian Allah jadikan bintang, matahari dan bulan sebagai sumber cahaya yang menerangi sekelingnya.

Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Al Bazzar dan Abdullah ibnu Amr ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : ” Sesungguhnya Allah menciptakan mahluknya dalam kegelapan, lalu melemparkan kepadanya suatu cahaya dari cahayaNya. Maka barang siapa yang terkena cahaya itu, ia mendapat petunjuk, dan siapa yang luput darinya maka sesatlah ia”

Terang dan gelap adalah dua keadaan yang jauh berbeda. Tidak sama keadaan orang yang berada ditempat terang dengan orang yang berada di tempat gelap. Allah telah mengingatkan hal ini didalam surat Fathir ayat 19 – 21 :

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas". (QS Fathir :19-21)

Orang yang berada dalam kegelapan adalah orang yang jahil, bodoh, tidak berilmu, hidupnya terasa sempit,  kacau penuh carut marut dan berbagai kesulitan dan kesengsaraan. Sebaliknya orang yang berada pada tempat yang terang adalah orang yang berilmu, hidup sejahtera, aman nyaman dan tentram penuh dengan berkah dan rahmat Allah.  Dalam surat Fathir diatas disebutkan bahwa orang yang berada ditempat gelap diumpamakan seperti orang yang buta dan  berada pada tempat yang amat panas. Sedangkan orang yang berada pada tempat terang seperti orang yang melihat dan berada pada tempat yang teduh dan sejuk, tentu saja tidak sama keadaan  kedua orang tersebut.

Orang beriman adalah orang yang berada dalam naungan Cahaya Allah, wajah dan hatinya diliputi cahaya yang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya. Kata katanya menentramkan dan menyejukan hati, perilaku dan ahlaknya menyenangkan orang disekitarnya. Dimanapun ia berada selalu mendatangkan kedamaian dan ketenangan. Orang yang peka dan terang hatinya dapat melihat cahaya yang terpancar dari wajah orang Mukmin ini.

Sebaliknya orang yang tidak beriman pada Allah berada dalam kegelapan. Wajah dan hatinya diliputi kegelapan diatas kegelapan. Kata katanya menyakitkan hati, perilaku dan ahlaknya menimbulkan keresahan bagi orang disekitarnya. Hidupnya penuh kebohongan dan tipuan, kesana kemari mengumbar syahwat dan kesenangan fatamorgana. Orang yang mengikutinya sering terjebak kesenangan semu, yang berakhir dengan kesengsaraan dan derita. Orang yang peka dan terang hatinya dapat melihat kegelapan wajah orang ini.

Tanda tanda  orang beriman yang bermandikan dan berselimut cahaya itu adalah mereka yang disebutkan dalam surat An Nur ayat 36 :

"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, yaitu laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS An Nur : 36-37)

Mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dan urusan dunia dalam berzikir mengingat Allah, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka takut akan datangnya suatu hari yang hati dan penglihatan manusia bergoncang (kiamat). Mereka selalu bertasbih  mensucikan dan menganggungkan kebesaran Allah dimasjid masjid pada waktu pagi dan petang hari.

Cahaya yang memancar dari wajah dan tubuh orang beriman ini dapat dilihat oleh golongan Jin didunia ini.

Jin fasik dan kafir tidak berani mendekat orang yang taat beribadah, mereka merasa panas berada didekatnya. Cahaya yang memancar dari tubuh orang mukmin ahli ibadah dapat membakar mereka.  Orang yang tidak beriman tidak memiliki cahaya seperti itu, mereka jadi bulan bulanan tipu daya jin dan syetan dalam kehidupan dunia ini. Allah juga menyebutkan hal  ini dalam surat an Nahl ayat 99 dan 100. Bahwa syetan dan jin tidak punya kekuasaan dan kekuatan terhadap orang yang beriman dan bertawakal pada Allah, mereka hanya sekutu Allah.

Salah satu shabat yang ditakuti oleh golongan jin dan syetan adalah Umar bin Khatab, dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah bersabda pada Umar bin Khatab:  “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu  di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480).

Golongan Jin dan syetan bisa mengenal orang mukmin dari jauh dari cahaya yang memancar dari wajah dan tubuhnya. Mereka selalu menghindar dari pertemuan dengan orang seperti ini.

Banyak ayat Qur’an yang menceritakan bahwa kelak dihari berbangkit orang beriman dikenal dengan cahaya yang mengiringinya didepan , belakang, kiri dan kanannya. Tubuhnya bermandikan cahaya.  Mereka dapat dikenal dengan mudah dari cahaya yang memancar disekitar tubuhnya. Allah menyebutkan hal itu dalam surat al hadit ayat 12 :

"(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS Al Hadid : 12 )

Hal yang sama disebutkan Allah dalam surat at Tahrim ayat 8:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  (QS At Tahrim :8)

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim Rasulullah mengajarkan kita untuk berdoa memohon cahaya pada Allah sebagai berikut:

Allahummaj al fii Qolbi nuron,  wafii lisaani nuuron, wafii sam’i nuron, wafii bashorii nuron, wamin fawqii nuron, wamin tahtii nuuron, wa an yamiinii nuron, wa an syamaali nuron, wamin amaamii nuron, wamin kholfii nuuron, wajj al fii nafsii nuron, wa a’dzimlii nuuron, wa adzzim lii nuuron, wajj allii nuuron, wajj alni nuron, Allahumma a’thinii nuuron, wajj al fii ashobii nuron, wafii lahmi nuuron, wafii damii nuuron, wa fii sya’rii nuuron, wafii basyarii nuuron".

 “Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, per-besarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untuk-ku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku” (Hal ini semuanya disebutkan dalam Al-Bukhari 11/116 no.6316, dan Muslim 1/526, 529, 530, no. 763)

Demikianlah, Allah memberikan Cahaya-Nya pada orang yang beriman berupa Aura Nur Ilahi ketika hidup didunia dan ketika berada di Padang Mahsyar kelak. Mintalah kepada Allah agar Dia menambahkan dan menyempurnakan Cahaya-Nya pada diri kita masing masing.

Baru-baru ini ilmuwan mengetahui bahwa ternyata tubuh manusia juga memancarkan cahaya. Melalui usaha gabungan dari para ilmuwan di Tohoku Institute of Technology dan Kyoto University di Jepang, peneliti menemukan bahwa manusia sebenarnya adalah organisme hidup bercahaya.

Secara alami, cahaya yang dipancarkan tubuh manusia tidak terlalu terang. Bahkan cahaya yang dipancarkan tubuh manusia ribuan kali lebih redup dari apa yang bisa ditangkap mata manusia. Tetapi, ilmuwan menemukan bahwa cahaya redup florescenceini bisa ditangkap oleh peralatan ultrasensitif seperti kamera CCD  (cryogenic charge-coupled-device).

Untuk bisa menangkap cahaya redup yang dipancarkan tubuh manusia ini, ilmuwan harus terlebih dulu mendinginkan CCD hingga 184 derajat Farenheit dan memotret subyek dalam ruang gelap. Cahaya tubuh manusia ditemukan pada tingkat satu foton.

Dalam kamar gelap, lima pria berumur sekitar 20 tahun, berdiri telanjang dada di depan kamera dan diambil gambarnya selama 20 menit tiap tiga jam dari pukul 10 : 00 - 22 :00.

Peneliti dapat mendeteksi emisi ringan dari subyek dengan panjang gelombang 500-700 nanometer, mata manusia dapat menangkapnya dalam bentuk spektrum warna hijau dan merah.

Cahaya apapun, meskipun lemah, merupakan suatu fitur menarik dari suatu organisme. Tetapi manusia mungkin tidak spesial dalam hal ini, karena pendaran cahaya ada pada semua organisme hidup apapun.

Tetapi, sebuah studi lain yang dilakukan di Institut Internasional Biofisika di Jerman menemukan bahwa emanasi cahaya meningkat ketika subyek melakukan meditasi. Di sana mereka menemukan perubahan biokimia setelah subyek melakukan meditasi, peneliti mengetahui bahwa latihan meditasi menambah emisi foton manusia.

Emisi cahaya ultra lemah ini tidak berhubungan dengan temperatur. Namun berhubungan dengan rangkaian reaksi energi kimia yang rumit dalam proses metabolisme, yang memindahkan energi ke fluorophores yaitu komponen molekul yang bertanggung jawab untuk fluorescence.

Tergantung dari jumlah fluorophores dan lingkungan mereka, fluorescence berbeda dalam intensitas dan panjang gelombangnya. Karena itulah mengapa peneliti mengamati bahwa emisi pada wajah lebih kuat dibanding tubuh. Dari pencahayaan seluruh tubuh, wajah adalah yang paling terang, sejumlah fluorophoresyang lebih banyak ditemukan di bagian wajah dibanding pada kulit bagian lain.

Peneliti juga menemukan bahwa emisi ringan ini berfluktuasi sepanjang hari, dengan cahaya paling lemah terjadi pada pukul 10 :   00 dan yang paling kuat pada pukul 16 : 00. Mereka percaya, ini mungkin berhubungan dengan ritme keseharian tubuh manusia karena biokimia jam internal kita bertanggung jawab mengatur proses fisik seluruh tubuh.

Menurut peneliti Hitoshi Okamura, ahli biologi sirkulasi keseharian di Kyoto University, dari penemuan ini ia mengatakan bahwa emisi cahaya redup ini bisa menolong kita dalam kondisi medis tertentu.

Dalam dunia tasawuf, terdapat banyak metode untuk menjadi manusia yang bercahaya. Salah satu metode yang paling efektif adalah metode Dzikir Khatami.

Secara bertahap, tubuh manusia yang telah terlatih di dalam Metode Dzikir Khatami, akan berubah struktur molekuler bio kimianya. Tubuh ini akan memancarkan cahaya aura yang gilang gemilang. Bahkan dalam tingkat yang sempurna akan bisa merubah tubuhnya jasmaninya menjadi Tubuh Energi (Cahaya) sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Mengenai Tubuh Cahaya ini juga sudah di isyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Nabi SAW bersabda : “Manusia melewati titian akhirat menurut kadar cahaya (nur) yang dimilikinya. Cahaya itu bertambah setiap kali amal shalih (Dzikir Khatami) yang dimiliki kaum beriman bertambah. Di antara mereka ada yang berjalan (melewati titian itu) seperti meluncurnya bintang-bintang, ada yang sekedipan mata, ada yang seperti hembusan angin, atau laki-laki kuat yang berjalan cepat. Mereka melewatinya menurut kadar amal perbuatannya masing-masing.” (HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud)

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya “. (Asy-Syams : 7-10)

Pencerahan ruhaniyah hanya didapatkan dengan evolusi spiritual, yaitu peningkatan spiritualitas dari maqam kehidupan yang berorientasi jasmaniah menuju kehidupan yang berorientasi ruhaniyah. Hal ini dimaksudkan untuk perluasan kesadaran menuju kesadaran yang lebih tinggi dari sekedar kesadaran sebagai makhluk fisik. Kesadaran ruhaniyah adalah kesadaran bahwa manusia tidak sekedar makhluk fisik-jasmaniah semata.

Nurun 'ala Nurin adalah energi yang di gunakan oleh kalangan spiritualis Islam (tasawuf) untuk mengevolusikan spiritualitasnya. Energi ini bukanlah energi hasil buatan ataupun karya cipta manusia, juga bukan hasil olah spiritual para master meditasi. Tetapi energi ini adalah energi yang berasal dari Cahaya Tuhan, yang diberikan-Nya kepada seorang manusia pilihan yaitu Muhammad bin Abdullah. Nurun 'Ala Nurin adalah energi Ketuhanan, sebagai bekal umat Nabi Muhammad SAW dalam menempuh perjalanan spiritualnya kembali kepadaNya.

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya..”.(QS. Al-Maidah : 15)

"Dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan (menempuh perjalanan spiritual)". (QS. Al Hadiid 57 : 28 )

Nurun 'ala Nurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai ke rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari "Nurun 'ala Nurin. "Yahdillahu li Nuurihi mayya sya'u“. Nur Ilahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendaki-Nya”

Evolusi Spiritual hanya terjadi bila umat Islam telah sampai pada pelajaran ihsan. Makanya kita di suruh berdoa : “Tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.” ( QS Al-Fatihah 1 : 6).  Al-Fatihah adalah baca'an wajib ketika sholat. Artinya yang membaca sudah Islam.  Kita harus menemukan jalan Shirothol Mustaqim itu, yaitu sebuah jalan untuk menyempurnakan jiwa kita, yaitu Nurun 'ala nurin.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa setiap mahluk Allah itu mempunyai Energi Hidup yang disebut aura. Aura ini mempunyai medan energi yang disesuaikan dengan keadaan mahluk hidup tersebut. Umumnya medan energi manusia itu berkisar antara 15 cm - 2 m (ada beberapa orang tertentu yang mempunyai medan energi tak terhingga).

Aura seseorang itu mempunyai warna, warna aura inilah yang akan menentukan karakter dari orang tersebut. Umumnya orang-orang yang religius cenderung mempunyai warna aura putih, kuning keemasan atau keungu-unguan. Orang yang suka bicara/menasehati orang (Guru, Pengacara) umumnya berwarna biru dan hijau. Orang yang kurang baik perangainya cenderung berwarna merah kehitaman atau bahkan hitam.

Menurut Ki. Broto Kusumo, untuk dapat melihat aura, kita dapat melakukannya dengan cara sebagai berikut :

1. Sediakan tempat yang tenang (di dalam kamar yang teduh) dengan cahaya lampu +/- 5 watt, atau kalau di pagi hari adalah cahaya pada jam 7-8 pagi.

2. Duduklah 50 cm - 1 m di depan cermin.

3. Latar belakang kita (+/- 1 m) usahakan berwarna putih.

4. Konsentrasi dengan menatap daerah sekitar bahu dan kepala (menatapnya seperti orang melamun).

5. Dengan izin Allah akan tampak Aura berwarna putih (+/- 7 cm) di sekitar bahu dan kepala.

6. Tarik nafas dalam-dalam, tekan di perut, kemudian menghitung 1-10 kali.

7. Goyangkanlah badan kita ke kanan dan ke kiri, maka akan tampak aura tersebur berpendar seperti gunung meletus.

8. Ulangi terus berkali-kali, kemungkinan mata kita agak perih (bagi pemula).

9. Jika sudah terbiasa, mintalah izin Allah untuk mengetahui apa warna aura yang kita lihat tersebut.

10. Insya Allah warna aura tersebut dapat kita lihat, jika memang kita belum dapat melihatnya ikuti intuisi kita, dan tanyakan pada Allah apa warna aura kita tersebut, Insya kita akan mendapat Isyaroh/jawaban apa warna aura kita tersebut.

Jika seseorang pancaran auranya berwarna merah berarti ia dipenuhi sifat kuasa dan ego untuk mencapai kesuksesan. Warna merah ini sering tertahan di masa kecil, dimana dari lingkungan keluarganya dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita keluarga, sehingga tampak keruh dan berantakan. Setelah beranjak dewasa dan mampu hidup mandiri, auranya akan meluas dan ia akan mampu melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Orang yang mempunyai warna latar aura merah, sifatnya suka memerintah, bertanggung jawab dan mempunyai sifat pemimpin. Mempunyai sifat kasih sayang dan sikap hangat kepada sesame. Merah juga menandakan sifat berani. Sifat negatif dari warna merah adalah penggugup.

Seseorang yang pancaran auranya berwarna jingga, maka ia mempunyai sifat kepedulian. Mempunyai sifat alami kemampuan intuitif, bijaksana dan mudah bergaul. Warna jingga mempunyai sifat sebagai juru damai, timbang rasa, praktis. Sifat negatif warna jingga adalah, malas, tidak mampu dan tidak peduli.

Seseorang yang pancaranya auranya berwarna kuning, mempunyai sifat yang antusias dan mengasyikan. Berpikir dengan cepat dan menghibur orang lain. Senang berkumpul, menikmati percakapan yang panjang. Senang belajar tapi sifatnya hanya coba-coba sehingga pengetahuanya hanya sebatas kulitnya saja. Warna kuning juga suka dengan gagasan dan berekspresi. Sifat negative dari warna kuning adalah malu-malu dan suka berdusta.

Jika seseorang pancaran auranya berwarna hijau, maka ia mempunyai sifat sejuk dan damai dan ia juga berbakat untuk menjadi seorang penyembuh alami. Sikapnya kooperatif, dapat dipercaya, dan murah hati. Sifat hijau menyukai tantangan, bekerja tanpa kenal lelah, mudah dimintai tolong. Sifat negatifnya bersifat kaku dalam memandang setiap persoalan.

Seseorang yang pancaran auranya berwarna biru, orang tersebut secara alami mempunyai sifat positf dan antusias. Warna biru biasanya berhati muda, tulus, jujur dan jika bertindak sesuai dengan pikirannya. Mempunyai kebebasan, tidak suka dibatasi atau dilarang. Menyukai perjalanan, menyaksikan tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru, bisa menutupi perasaan dan bisa menyimpan rahasia. Sifat negatifnya kesulitan menyelesaikan tugas.

Sifatnya hangat, menyembuhkan dan mengasuh. Senang memecahkan maslah, senang menolong. Sifat negatifnya ketidakmampuan mengatakan “tidak” sehingga sering dimanfaatkan orang lain.

Seseorang yang pancaran auranya berwarna ungu, maka ia menyukai kegiatan-kegiatan spiritual dan metafisika. Sifat negatifnya merasa unggul dari yang lain.

Mempunyai gagasan-gagasan besar, namun sebagian diantaranya tidak praktis. Sering tidak mempunyai motivasi.

Mempunyai kemampuan menangani proyek-proyek dan mampu bertanggung jawab dalam skala besar. Mempunyai sifat kharismatik, pekerja keras, sabar. Mencapai kesuksesan pada usia lanjut.

Mempunyai sifat yang tegas, keras kepala, cita-citanya tinggi dan mempunyai perencanaan. Secara alami mereka mereka adalah orang-orang sederhana, tidak berlagak, senang menjalankan hidup dengan tenang.

Sifatnya tidak menonjolkan diri, sederhana, sangat manusiawi laksana orang-orang suci. Tidak mempunyai sifat ego, lebih tertarik pada kesejahteraan orang lain.Intuitif, bijaksana, idealis dan cinta damai.

Bila seseorang pancaran auranya berwarna hitam, bisa diartikan orang tersebut diselubungi oleh kemisterian, karena orang ini sifatnya kadang terbuka dan kadang tertutup. Warna hitam bisa diartikan mempunyaisifat yang tidak baik, culas artinya mempunyai maksud jelek terhadap oaring lain yang ditemuinya. Jika warna hitam berkombinasi dengan warna merah, orang tersebut mempunyai sifat yang tidak baik dan jahat.

Cara melihat siapa diri kita atau orang lain dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Lakukan hal yang sama dengan di atas.

2. Konsentrasi dengan menatap bagian sekitar kening dan tengah-tengah alis mata.

3. Tataplah seperti orang sedang melamun.

4. Mintalah izin Allah untuk memperlihatkan siap diri kita pada saat ini.

5. Jangan kaget dan takut, berangsur-angsur kita akan melihat perubahan bentuk wajah kita. Akan terlihat di cermin wajah berbentuk binatang. Semuanya ini menunjukan kelakuan kita pada saat ini.

6. Jika kita sudah tahu, Istighfar atau mohon ampunlah kepada Allah.

7. Jika kita melihat orang lain, biarlah menjadi rahasia diri kita tentang siapa orang yang ada di depan kita tersebut. Ambil tindakan preventif untuk menghadapi orang tersebut.

(Dikompilasi dari berbagai sumber)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shalawat Badawiyah Kubro (An-Nurooniyah) dan Fadhilahnya

Sanad Keilmuan KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU), Abu Hasan Al-Asy'ari hingga Rasulullah

Terjemah Kitab Alala dalam Bahasa Jawa dan Indonesia