Kisah Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy'ari dan Santri Abu Nawas


Tiap - tiap Pesantren , punya ciri khas sendiri - sendiri , dan keunikan yang berbeda - beda , dengan santri yang beragam warna nya , dan yang aneh tapi nyata , tidak semua santri yang jadi orang besar itu anak yang dulu nya mempeng Belajar nya , Memang Pada kenyataan nya bahwa santri yang dulu nya Nakal ,Bandel ataupun mbejijat pun dikemudian hari banyak yang menjadi orang Besar dan Bermanfaat .

Salah satunya seperti di Ceritakan oleh Kiai Ahmad Muwafiq,  di Pucung, Tirto, Pekalongan, Jawa Tengah, 6 Januari 2017:

Mbah Hasyim punya santri bernama Sulam Syamsun, yaitu ayah dari Munyati Sulam, penyiar  TVRI yang biasanya qira’ah , Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak hutang.

Pada suatu waktu pasca lebaran, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia pun berkirim surat kepada kiainya, KH Hasyim Asy’ari yang kurang lebih isinya:

Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy’ari.

Ini saya ayahanda Sulam, Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk di-ikhlasaken.

Demikian bunyi surat itu yang di buat oleh sulam sendiri mengatas namakan ayahnya .

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian beliau mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (sholat yang dilakukan tatkala seorang muslim yang meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi). Setelah shalat ghaib, beliau mengumumkan:

“Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,” pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa.

Semua santri menjawab: “Nggih...” (Iya)

Kemudian yang agak berat, soal utang. “Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?”

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: “nggih...”

“Halal?”

“Halal,” jawab santri, serempak.

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: “matur nuwuuun” (terima kasih....!)

Melihat kelakuan santrinya yang “kurang ajar” seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam.

“Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: kamu di sini sudah tidak punya salah dan tidak punya hutang. Adapun yang masih belum ikhlas dengan hutangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara, aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya hutang di Sulam, atau yang dihutangi Sulam, tagihlah aku,” tutur Kiai Hasyim.

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy’ari. Juga salah satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar bagaimana hutangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang “santri nakal”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Shalawat Badawiyah Kubro (An-Nurooniyah) dan Fadhilahnya

Sanad Keilmuan KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU), Abu Hasan Al-Asy'ari hingga Rasulullah

Terjemah Kitab Alala dalam Bahasa Jawa dan Indonesia